--> Skip to main content

Enam Kelemahan Sistem Pendidikan Indonesia



Enam Kelemahan Sistem Pendidikan Indonesia - Mayoritas penduduk di Indonesia sering bertanya "Kenapa dia miskin?" "Kenapa hidup dia susah?" Kenapa dia menjadi pengangguran? " Nah, jawaban yang sering kali di lontarkan adalah karena pendidikan. Jadi, pendidikan di Indonesia masih sangat menentukan tingkat Sumber daya manusia nya. Seperti yang dikatakan oleh Andrias Harefa bahwa warna corak kehidupan seseorang bergantung pada seberapa besar volume orang itu mau menjadi pembelajar (Learner) di sekolah kehidupan ini. Artinya apa, mimpi, Cita-cita, kemauan, keinginan dan target hidup seseorang akan menjadi nyata apabila orang tersebut mau meleburkan diri ke dalam kolam pendidikan. Jangan tanya seberapa banyak ilmu yang di dapatkan tapi tanyakanlah sudah berapa banyak waktu untuk mempraktekkan apa yang telah kita baca.

Permasalahan pendidikan di Indonesia sangatlah beragam, salah satu dari banyaknya permasalahan yang kompleks itu ada diantaranya yaitu kelemahan sistem pendidikan di Indonesia.
Mengutip dari pendapat H.A.R Tilaar Qodir permasalahan sistem pendidikan di Indonesia terbagi menjadi enam diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Sistem pendidikan yang kaku dan sentralistik.
Sistem pendidikan yang kaku dan sentralistik bisa dilihat dari semua bidang seperti pakaian seragam sekolah, kurikulum, materi ujian, sistem evaluasi dan lain sebagainya.
Seperti yang dikemukakan oleh mendikbud Nadim makarim bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih kaku, sehingga menghambat kreativitas dan inovasi yang seharusnya menjadi unggulan dalam pelaksanaan pendidikan itu sendiri. Maka yang harus dilakukan adalah merubah peraturan yang kaku itu agar flexible sehingga dunia pendidikan akan sinkron dengan dunia kerja dimana kreatifitas dan inovasi sangat dibutuhkan di era modern saat ini.

2. Kurang mempertimbangkan kenyataan di masyarakat.
Dalam hal ini, masyarakat hanya dipandang sebagai obyek pendidikan saja dari pada subyek pendidikan. Kebijakan dan keputusan pemerintah belum melibatkan masyarakat secara langsung. Akibatnya masyarakat merasa asing terhadap apa yang menjadi keputusan pemerintah misalnya sistem PPDB online, sistem ini bagus tapi pemerintah juga harus mensosialisasikan kebijakan tersebut kepada masyarakat bawah secara menyeluruh. Contoh lainnya adalah studytour yang menghabiskan biaya banyak dan lain-lain.

3. Cenderung birokratik.
Orientasi kekuasaan yang dominan melemahkan sistem pelayanan dalam dunia pendidikan. Sekolah atau yayasan pendidikan yang mempunyai relasi kekuasaan dalam konteks birokrasi cenderung mengebiri sistem pendidikan. Lihat saja, pembangunan infrastruktur sekolah yang tidak merata, adanya sekolah favorit dan sekolah buangan. Corak birokratik dalam relasi kependidikan ini bisa menghilangkan budaya prestasi dan profesionalisme, siswa akan kehilangan hak pendidikan karena guru bergaji minim sementara fasilitas sekolah tidak memadai akhirnya guru turun tangan menjadi broker politik dengan tujuan mendapatkan bantuan dari relasi yang didapatkannya. Akibatnya timbul budaya KKN dan orientasi proyek dalam beberapa kegiatan pendidikan baik itu di Depdiknas maupun Depag.

4. Berorientasi proyek
Ketika sekolah direduksi menjadi perpanjangan alat birokrasi pemerintah makan otomatis guru dan siswa pun akan tereduksi olehnya. Bagaimana tidak, sekolah yang seperti ini akan kehilangan idealisme dan profesionalisme dalam melayani pendidikan. Orientasinya hanyalah proyek semata.

5. Penekanan aspek kognitif.
Wacana mendidik anak untuk memiliki karakter yang baik belum menjadi perhatian utama dari sistem pendidikan nasional. Kepribadian anak didik kurang terbentuk dikarenakan penekanan aspek kognitif lebih dominan dibandingkan penekanan aspek psikomotorik dan afektif. Akibatnya pendidikan hanya menjadi formalitas semu dan membosankan.

6. Kurangnya kreativitas dan produktivitas siswa.
Sistem pendidikan yang ada saat ini belum seluruhnya mengembangkan pertumbuhan kreativitas dan produktivitas siswa yang inovatif untuk tahu. Akibatnya masih banyak siswa yang belum mantap SDMnya ketika berhadapan dengan dunia kerja karena tidak adanya sinkronisasi antar budaya sekolah dan budaya kerja.

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar